Senin, 18 April 2016

#kamitidaktakut vs #kamibodoh

Beberapa saat yang lalu, saat Ibukota negara kita tercinta, DKI  Jakarta diguncang bom yang cukup menggemparkan. Disaat bersamaan freeport sedang melepas sahamnya  muncul tagar yang bervariasi di media sosial. Mulai dari #prayforjakarta,#kamitidaktakut,#jakartaaman,#kamiadalahpembasmikebatilan,dan #kamikamiyanglain.. -_-


Lupakan sejenak isu-isu konspirasi remason/wahyudi yang menyebutkan bahwa bom ini settingan, pengalihan isu freeport yang melepas saham dan lain-lain. Kita melihat dari sudut pandang kita sebagai masyarakat awam, dan tindakan kita dalam menghadapi krisis.

“Itu kan wujud keberanian, mas kas! Itu menunjukkan kalau orang Indonesia berani…. ATAU KONYOL ?” :P
Sebenarnya, sah-sah saja kita menyatakan kalau kita tidak takut akan teror. Sah-sah saja kalau kita menyatakan keteguhan hati kita. Namun, coba lihat foto diatas. Tanyakan pada hati nuranimu, itu tindakan yang #berani atau #bodoh?
Dari hati dan pikiran saya, saya lebih menilai tindakan yang dilakukan mereka adalah tindakan yang bodoh“kurang cerdas”. Berani bukan berarti kita bisa dengan santainya mengabaikan keselamatan diri kita. Berani bukan berarti kita bisa dengan konyol mendekati lokasi yang tidak aman. Berani adalah sikap penuh tanggung jawab yang diiringi keyakinan dan dasar tindakan yang benar.
Jika kita memang tidak takut, maka alangkah lebih baik bila kita mengarahkan keberanian kita pada hal yang lebih positif. Beberapa hal positif yang berani seperti:
1.      Berani Belajar lebih Dalam soal Agama. Kita berani! ya, berani untuk mempelajari agama dengan lebih dalam dan lebih terbuka. Kita mempelajari agama dengan dasar hati nurani yang bersih. Tidak takut akan agama dan pengajian setelah ada bom yang mengatasnamakan Jihad di jalanThamrin agama. Dengan berani belajar lebih dalam dan terbuka soal agama, kita akan terselamatkan dari pola pikir sesat, fanatisme sempit, anti-toleransi, dan jihad-salah-jalan, atau malah bergabung dengan kelompok radikal seperti SOSIS ISIS.
2.      Berani Memperbaiki Hati. Kita makin berani! kita berani memperbaiki hati kita yang “sakit”. Kita membersihkan diri dari penyakit-penyakit hati. Kita berani mengakui kesalahan kita dengan sikap kesatria. Kita berani memiliki hati lebih bersih.
3.      Berani Membantu Sesama. Kita super berani! kita berani membantu orang lain yang membutuhkan. Tidak sibuk dengan urusan kita sendiri. Tidak mementingkan urusan partai politik kelompok ideologi tertentu. Kita berani untuk tidak pandang bulu membantu orang yang membutuhkan. contohnya, bila ada kecelakaan di jalan raya, usahakan membantu korban dengan kemampuan kita, semampunya. Tidak hanya nonton dan malah membuat jalan makin macet.
4.  Berani berfikir lebih Cerdas. Kita ultra milk berani ! kita berani berfikir lebih dalam dalam mengerjakan hal-hal dalam kehidupan. Kita berusaha mencerna kondisi sebab-akibat yang akan terjadi bila kita melakukan kebodohan. Kita juga berani berfikir lebih efektif, efisien, dan lebih cermat.contohnya, bila ada kecelakaan di jalan raya, (lagi) usahakan membantu korban dengan kemampuan kita, semampunya. Tidak hanya nonton dan malah membuat jalan makin macet. Plus, korban yang terluka tidak perlu difoto dan disebar di media sosial. Itu tidak membantu! -_-
5.      Berani Mengakui kekurangan dan MINTA MAAF. Kita Berani! apa? minta maaf. Sikap ini sudah mulai luntur dari budaya sopan santun kita di negara ini. Lebih banyak orang egois yang seakan-akan tidak punya kesalahan. Menyalahkan orang lain sesuka hati. Berani introspeksi diri!
End of saying, kembali ke tindakan mbak-mbak yang melet asik saat ada bencana bom, apakah itu tindakan #berani atau #bodoh? tergantung sudut pandang masing-masing individu. Tanyakan pada hati nuranimu. Hati nurani yang dewasa ini,  lebih sering “diduakan” daripada diikuti. :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar