Senin, 18 April 2016

Sarjana Susah kerja?

“Susah nih, nunggu panggilan wawancara dari perusahaan.” | “Gimana ya, udah ngirim banyak banget lamaran masih aja belum ada yang respon.” | “Gue mau pulang aja, nyari kerjaan seadanya di desa.” | Pernahkah kamu mendengar kalimat-kalimat seperti itu? dari mana kamu sering dengar? Yap, dari para SARJANA yang sudah menyelesaikan studinya, tapi masih menganggur.

Sudah menjadi hal yang jamak kita dengar jika banyak sarjana yang lebih sering jadi “pengangguran abadi” daripada yang bekerja. Sarjana di sini adalah sebutan ngawur umum saya untuk mereka yang sudah lulus dan mendapatkan gelar strata 1 dan sesudah menempuh sekian ratus sks (sistem kredit semester) di perguruan tinggi.
Mereka yang menganggur biasanya menghabiskan waktu untuk sekedar menunggu di rumah maupun di kost-kost an sambil terus pacaran mengirim lamaran tanpa henti. Ada yang sukses mendapatkkan pekerjaan, namun banyak pula yang cukup lama menganggur. Bahkan, menganggur terlalu lama dan tidak punya sumber penghasilan. SAMA SEKALI. Jadi beban orang tua (padahal selama ini udah jadi beban :p ).

“IPK tinggi, CUMLAUDE, tapi susah dapat kerjaan!”

Sering kita jumpai Sarjana yang lulus dengan IPK kung lao cumlaude, tapi tidak diterima di banyak perusahaan. Atau malah, lulusan Magister, S2, yang cuma nganggur. Eeemm,.. apanya yang salah? IPK sudah tinggi, lalu apa?
Sebenarnya, siapakah yang harus bertanggung jawab dengan fenomena sarjana menganggur ini? pemerintahkah? sarjana-nya itu sendiri? orang tua? perusahaan? ISIS? Kemdikbud? Iran? Amerika Serikat? siapa? silahkan saja menyalahkan banyak pihak. Asal belum “kebablasen” dan mulai menyalahkan tuhan. ehehe… tapi sebelum menyalahkan banyak pihak dan menambah dosa, marilah kita bermuhasabah diri.
Sarjana, adalah manusia yang diharapkan memiliki ilmu dan pengalaman yang luaskompeten di bidangnyapola pikir yang terbukakarakter yang kuat,bersahaja, serta memiliki idealisme dan profesionalisme dalam berkarya, eheem… berapa banyak sih sarjana yang bertipe seperti itu? untuk anda yang masih berstatus mahasiswa, coba tengok sekeliling kalian, atau paling tidak tengok diri kalian sendiri. :p
Mari kita cermati:
1.      Ilmu dan pengalaman yang luas. Sebagai seorang sarjana (atau mahasiswa), apakah ilmu pengetahuan kalian berada di level mumpuni? coba,… sudah berapa banyak buku yang kamu baca hari ini? oh, saya salah pertanyaan. Sudah baca  sesuatu yang bermanfaat hari ini? Buku? kitab suci? jurnal penelitian? artikel? cerita dewasa apapun? jika belum, lalu darimana kamu mendapatkan ilmu pengetahuan yang luas? diluar bangku kuliah, apakah kamu mendapat ilmu lain selain subyek-subyek kuliah? apakah pengalamanmu di kampus selain datang-duduk-ngantukmendengarkan-pulang? pernah ikut organisasi yang menambah pengalaman? tanyakan pada dirimu.
2.      Kompeten di bidangnya. Apakah kamu cukup kompeten di bidangmu? bagaimana cara mengetahui kompetensimu? baiklah, begini, pernahkan kamu menguji kemampuanmu, misalnya, jika kamu mahasiswa pendidikan bahasa Inggris, pernahkah kamu menguji kemampuan speaking/berbicara mu dengan teman sekelasmu yang lebih baik skill speaking nya? atau, pernahkah kamu mencoba menulis artikel dengan bahasa inggris hingga anda benar-benar kehabisan kata-kata? atau, pernahkan kamu memberi pertanyaan pada diri sendiri bagaimana sebenarnya kemampuan mengajarmu? apakah kamu cukup kompeten?
3.      Pola pikir terbuka. Gampang saja, jika ada orang lain yang memiliki pandangan yang berbeda dengan kamu, diterima atau langsung jadi ajang debat kusir? apakah kamu masih sering menganggap orang yang berfikir berbeda soal agama sebagai monyet kafir? tanyakan nuranimu.
4.      Karakter Kuat. Kalau kamu sering ngeluh pas dapat jodoh tugas dari dosen pas kuliah, masih sering malas-malasan, tidak berani bertemu dosen kalau tidak ditemani, gampang ikut aliran-aliran sesat tertentu dan mengkafirkan orang lain, berarti kamu masih…. tanyakan pada nuranimu.
5.      Bersahaja. Mereka yang bersahaja senantiasa merunduk, sikapnya. Rendah hati dalam menyikapi pujian orang lain. Senantiasa mengapresiasi karya dan kelebihan orang lain. Sopan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatanbertindak dan berbahasa, dan tidak mudah menyalahkan orang lain. Apakah kamu termasuk sarjana yang bersahaja? lebih sering mana, menghujat dosen yang notabene berilmu dan berpengalamann lebih banyak dari kita atau mengapresiasi karyanya? :v tanyakan pada nuranimu.
6.      Idealis dan Profesional dalam Berkarya. Semua karya yang diciptakan berorientasi pada proses dan hasil yang maksimal. Penuh dedikasi dalam mengerjakan setiap tanggung jawab. Mencurahkan tenaga dan pikiran secara maksimal dalam mencetak karya. Apakah kamu sarjana yang bersikap seperti ini? jika kamu masih sering kopi susu paste tugas kuliah, ngerjain tugas degan asal-asalan, bikin jurnal nyambi main perasaan game (dan lebih banyak main game-nya daripada ngerjain, ujung ujungnya, kopi susu paste dari temen) :v…. emm.. tanyakan nuranimu,
So, sering kita jumpai sarjana yang berteriak lantang dan mengerang pedih karena mereka tidak dipekerjakan dengan layak, atau bahkan tidak bekerja. Kasus yang terjadi tentang sarjana IPK tinggi yang sulit mendapat pekerjaan, bukan IPK nya! di dunia kerja, IPK mu hanya “angka kosong” jika kamu tidak punya kemampuan diatas. Ini lebih tentang sebuah kemampuan diluat kecerdasan akademik. Perusahaan tidak hanya butuh orang pintar, namun Tangkas, Cekatan, Mampu bekerja sama, dan Kompeten. (kayak gitu kan tulisan di syarat-syarat melamar pekerjaan?? :v )

Pungkasaning atur. Sarjana diharapkan bukan orang cuma pinter, cuma organisator, atau cuma-cuma yang lain. Sarjana paket komplit lebih disukai oleh penyedia lowongan kerja. :) apakah kamu sudah termasuk? tanyakan nuranimu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar