“Susah nih, nunggu panggilan wawancara dari
perusahaan.” | “Gimana ya, udah ngirim banyak banget lamaran masih aja belum
ada yang respon.” | “Gue mau pulang aja, nyari kerjaan seadanya di desa.”
| Pernahkah kamu mendengar kalimat-kalimat seperti itu? dari mana kamu
sering dengar? Yap, dari para SARJANA yang sudah menyelesaikan studinya, tapi
masih menganggur.
Sudah menjadi hal yang
jamak kita dengar jika banyak sarjana yang lebih sering jadi “pengangguran
abadi” daripada yang bekerja. Sarjana di sini adalah sebutan ngawur umum saya untuk mereka yang sudah lulus
dan mendapatkan gelar strata 1 dan sesudah menempuh sekian ratus sks (sistem
kredit semester) di perguruan tinggi.
Mereka yang menganggur
biasanya menghabiskan waktu untuk sekedar menunggu di rumah maupun di kost-kost
an sambil terus pacaran mengirim lamaran tanpa henti. Ada yang
sukses mendapatkkan pekerjaan, namun banyak pula yang cukup lama menganggur.
Bahkan, menganggur terlalu lama dan tidak punya sumber penghasilan. SAMA
SEKALI. Jadi beban orang tua (padahal selama ini udah jadi beban :p ).
“IPK tinggi, CUMLAUDE, tapi susah dapat kerjaan!”
Sering kita jumpai
Sarjana yang lulus dengan IPK kung
lao cumlaude, tapi
tidak diterima di banyak perusahaan. Atau malah, lulusan Magister, S2, yang
cuma nganggur. Eeemm,.. apanya yang salah? IPK sudah tinggi, lalu apa?
Sebenarnya, siapakah yang harus bertanggung jawab dengan
fenomena sarjana menganggur ini? pemerintahkah? sarjana-nya itu sendiri? orang
tua? perusahaan? ISIS? Kemdikbud? Iran? Amerika Serikat? siapa? silahkan saja
menyalahkan banyak pihak. Asal belum “kebablasen” dan mulai menyalahkan tuhan.
ehehe… tapi sebelum menyalahkan banyak pihak dan menambah dosa, marilah kita
bermuhasabah diri.
Sarjana, adalah
manusia yang diharapkan memiliki ilmu dan pengalaman
yang luas, kompeten di bidangnya, pola pikir yang terbuka, karakter yang kuat,bersahaja, serta memiliki idealisme dan profesionalisme
dalam berkarya, eheem… berapa banyak
sih sarjana yang bertipe seperti itu? untuk anda yang masih berstatus
mahasiswa, coba tengok sekeliling kalian, atau paling tidak tengok diri kalian
sendiri. :p
Mari kita cermati:
1. Ilmu dan pengalaman yang
luas. Sebagai seorang sarjana (atau mahasiswa), apakah ilmu
pengetahuan kalian berada di level mumpuni? coba,… sudah berapa banyak buku
yang kamu baca hari ini? oh, saya salah pertanyaan. Sudah baca sesuatu
yang bermanfaat hari ini? Buku? kitab suci? jurnal penelitian? artikel?
cerita dewasa apapun?
jika belum, lalu darimana kamu mendapatkan ilmu pengetahuan yang luas? diluar
bangku kuliah, apakah kamu mendapat ilmu lain selain subyek-subyek kuliah?
apakah pengalamanmu di kampus selain datang-duduk-ngantukmendengarkan-pulang?
pernah ikut organisasi yang menambah pengalaman? tanyakan pada dirimu.
2. Kompeten di bidangnya. Apakah
kamu cukup kompeten di bidangmu? bagaimana cara mengetahui kompetensimu?
baiklah, begini, pernahkan kamu menguji kemampuanmu, misalnya, jika kamu
mahasiswa pendidikan bahasa Inggris, pernahkah kamu menguji kemampuan
speaking/berbicara mu dengan teman sekelasmu yang lebih baik skill speaking nya? atau, pernahkah kamu mencoba
menulis artikel dengan bahasa inggris hingga anda benar-benar kehabisan
kata-kata? atau, pernahkan kamu memberi pertanyaan pada diri sendiri bagaimana
sebenarnya kemampuan mengajarmu? apakah kamu cukup kompeten?
3. Pola pikir terbuka. Gampang saja, jika
ada orang lain yang memiliki pandangan yang berbeda dengan kamu, diterima atau
langsung jadi ajang debat kusir?
apakah kamu masih sering menganggap orang yang berfikir berbeda soal agama
sebagai monyet kafir?
tanyakan nuranimu.
4. Karakter Kuat. Kalau kamu sering
ngeluh pas dapat jodoh tugas
dari dosen pas kuliah, masih sering malas-malasan, tidak berani bertemu dosen
kalau tidak ditemani, gampang ikut aliran-aliran sesat tertentu
dan mengkafirkan orang lain, berarti kamu masih…. tanyakan pada nuranimu.
5. Bersahaja. Mereka yang
bersahaja senantiasa merunduk, sikapnya. Rendah hati dalam menyikapi pujian
orang lain. Senantiasa mengapresiasi karya dan kelebihan orang lain. Sopan
dalam pikiran, perkataan, dan perbuatanbertindak
dan berbahasa, dan tidak mudah menyalahkan orang lain. Apakah kamu termasuk
sarjana yang bersahaja? lebih sering mana, menghujat dosen yang notabene
berilmu dan berpengalamann lebih banyak dari kita atau mengapresiasi karyanya?
:v tanyakan pada nuranimu.
6. Idealis dan Profesional dalam
Berkarya. Semua karya yang diciptakan berorientasi pada proses dan hasil
yang maksimal. Penuh dedikasi dalam mengerjakan setiap tanggung jawab.
Mencurahkan tenaga dan pikiran secara maksimal dalam mencetak karya. Apakah
kamu sarjana yang bersikap seperti ini? jika kamu masih sering kopi susu paste tugas
kuliah, ngerjain tugas degan asal-asalan, bikin jurnal nyambi main perasaan game
(dan lebih banyak main game-nya daripada ngerjain, ujung ujungnya, kopi susu paste dari
temen) :v…. emm.. tanyakan nuranimu,
So, sering kita jumpai sarjana yang berteriak
lantang dan mengerang pedih karena mereka tidak dipekerjakan dengan layak, atau
bahkan tidak bekerja. Kasus yang terjadi tentang sarjana IPK tinggi yang sulit
mendapat pekerjaan, bukan IPK nya! di dunia kerja, IPK mu hanya “angka kosong”
jika kamu tidak punya kemampuan diatas. Ini lebih tentang sebuah kemampuan
diluat kecerdasan akademik. Perusahaan tidak hanya butuh orang pintar, namun
Tangkas, Cekatan, Mampu bekerja sama, dan Kompeten. (kayak gitu kan tulisan di
syarat-syarat melamar pekerjaan?? :v )
Pungkasaning atur. Sarjana diharapkan bukan orang cuma pinter,
cuma organisator, atau cuma-cuma yang lain. Sarjana paket komplit lebih disukai
oleh penyedia lowongan kerja. :) apakah kamu sudah termasuk? tanyakan
nuranimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar