Beberapa saat yang lalu, saat Ibukota negara kita tercinta, DKI
Jakarta diguncang bom yang cukup menggemparkan. Disaat bersamaan freeport
sedang melepas sahamnya muncul tagar yang bervariasi di media sosial. Mulai dari
#prayforjakarta,#kamitidaktakut,#jakartaaman,#kamiadalahpembasmikebatilan,dan #kamikamiyanglain.. -_-
Lupakan sejenak isu-isu konspirasi remason/wahyudi yang menyebutkan bahwa bom ini settingan, pengalihan isu freeport
yang melepas saham dan
lain-lain. Kita melihat dari sudut pandang kita sebagai masyarakat awam, dan
tindakan kita dalam menghadapi krisis.
“Itu kan wujud keberanian, mas kas! Itu menunjukkan kalau orang Indonesia berani…. ATAU KONYOL ?” :P
Sebenarnya, sah-sah
saja kita menyatakan kalau kita tidak takut akan teror. Sah-sah saja kalau kita
menyatakan keteguhan hati kita. Namun, coba lihat foto diatas. Tanyakan pada
hati nuranimu, itu tindakan yang #berani atau #bodoh?
Dari hati dan pikiran saya, saya lebih menilai tindakan yang
dilakukan mereka adalah tindakan yang bodoh“kurang cerdas”. Berani bukan berarti kita bisa
dengan santainya mengabaikan keselamatan diri kita. Berani bukan berarti kita
bisa dengan konyol mendekati lokasi yang tidak aman. Berani adalah sikap penuh
tanggung jawab yang diiringi keyakinan dan dasar tindakan yang benar.
Jika kita memang tidak
takut, maka alangkah lebih baik bila kita mengarahkan keberanian kita pada hal
yang lebih positif. Beberapa hal positif yang berani seperti:
1.
Berani Belajar lebih Dalam soal Agama. Kita berani!
ya, berani untuk mempelajari agama dengan lebih dalam dan lebih terbuka. Kita
mempelajari agama dengan dasar hati nurani yang bersih. Tidak takut akan agama
dan pengajian setelah ada bom yang mengatasnamakan Jihad di jalanThamrin agama.
Dengan berani belajar lebih dalam dan terbuka soal agama, kita akan
terselamatkan dari pola pikir sesat, fanatisme sempit, anti-toleransi, dan
jihad-salah-jalan, atau malah bergabung dengan kelompok radikal seperti SOSIS ISIS.
2.
Berani Memperbaiki Hati. Kita makin berani! kita berani
memperbaiki hati kita yang “sakit”. Kita membersihkan diri dari
penyakit-penyakit hati. Kita berani mengakui kesalahan kita dengan sikap
kesatria. Kita berani memiliki hati lebih bersih.
3.
Berani Membantu Sesama. Kita super berani! kita berani
membantu orang lain yang membutuhkan. Tidak sibuk dengan urusan kita sendiri.
Tidak mementingkan urusan partai
politik kelompok ideologi tertentu. Kita berani untuk
tidak pandang bulu membantu orang yang membutuhkan. contohnya, bila ada
kecelakaan di jalan raya, usahakan membantu korban dengan kemampuan kita,
semampunya. Tidak hanya nonton dan malah membuat jalan makin macet.
4. Berani berfikir lebih Cerdas. Kita ultra milk berani !
kita berani berfikir lebih dalam dalam mengerjakan hal-hal dalam kehidupan.
Kita berusaha mencerna kondisi sebab-akibat yang akan terjadi bila kita melakukan
kebodohan. Kita juga berani berfikir lebih efektif, efisien, dan lebih
cermat.contohnya, bila ada kecelakaan di jalan raya, (lagi) usahakan membantu
korban dengan kemampuan kita, semampunya. Tidak hanya nonton dan malah membuat
jalan makin macet. Plus, korban yang terluka tidak perlu difoto dan disebar di
media sosial. Itu tidak membantu! -_-
5.
Berani Mengakui kekurangan dan MINTA MAAF. Kita Berani! apa?
minta maaf. Sikap ini sudah mulai luntur dari budaya sopan santun kita di
negara ini. Lebih banyak orang egois yang seakan-akan tidak punya kesalahan.
Menyalahkan orang lain sesuka hati. Berani introspeksi diri!
End of saying, kembali ke tindakan mbak-mbak yang melet asik saat ada bencana bom, apakah itu tindakan
#berani atau #bodoh? tergantung sudut pandang masing-masing individu. Tanyakan
pada hati nuranimu. Hati nurani yang dewasa ini, lebih sering “diduakan”
daripada diikuti. :)


