Senin, 01 Desember 2014

FIKSI MINI: MERINDUKAN DIA



Sore ini langit begitu mendung, mungkin langit paham suasana hatiku. Kupandangi terus mereka yang menangis di sana. Apa yang sedang mereka tangisi di sana, aku tidak mau tahu.

“Oh, mulai gerimis.” Kata Horace pelan mengagetkan lamunanku. Dengan lambaian pelan dia mengajakku meninggalkan tempat itu. Aku masih diam, mematung, kakiku seperti berakar ke dalam tanah. Horace berusaha menggapai ku.

“Ayolah, sudah mulai hujan. Kau akan basah kuyup jika tetap disini.” Kata Horace pelan. Dia mengatakan hal yang sama berulang-ulang. “Ini bukan salahmu, Deanne. Dia akan merindukanmu.”

Oh, jadi sedari tadi dia berbicara pada Deanne, kekasihku. Gadis cantik itu mulai beranjak pergi, sambil menangis. Horace memeluknya dengan tangannya yang kekar. Oh, setidaknya Deanne aman bersama sahabat sejatiku itu.

Jaga dia Horace, jangan sampai tanganmu yang kekar melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan padaku. Setidaknya peluk dia, jangan patahkan lehernya.

Aku akan sangat merindukannya. By the way, mengapa namaku tertulis di batu aneh ini? Oh aku tahu, setidaknya mereka ingat tanggal lahirku. Haha…

FIKSI MINI: DESEMBER DAN LONDON



Kapan kami akan berangkat ke London?
Pertanyaan itu selalu membayang di benak ku. Mungkin kami harus menunggu lebih lama lagi, tapi paman berjanji akan mengirim tiketnya Desember ini.

"Merie, kau mendapat hadiah terindah dari pamanmu, tiketnya datang!" Teriak ibu dari lantai bawah.
Aku hanya bisa diam, mendengar apa yang baru saja dikatakan ibu. Tenggorokanku tercekat. Nafasku berat. Mataku masih tak bisa berpaling dari layar monitorku.
"Ayolah Merie, Pamanmu datang sendiri mengantarkannya, temui dia di bawah." Ibu masih membujukku.

Aku makin ragu, pusing. Aku mulai kehabisan napas. Ibu melihat aku yang pucat pasi lalu ikut memandangi layar monitor.
Seketika Ibu pingsan. BRUUUK !! 

...... maaf Merie, paman James meninggal beberapa hari yang lalu, dia tak bisa mengirim tiketmu. Tiket yang dia bawa juga hilang dibawa pembunuhnya....
Bunyi Email yang aku baca. OH ... Tidak!

FIKSI MINI : TIDAK ADA BALAS DENDAM



Langit barat Nampak makin merah. Kami masih berdiri di sini menunggu kereta yang tak kunjung tiba. Kami terlambat! Pernikahan Joanne sudah dimulai 2 jam yang lalu. Ya, kami sudah pasti terlambat. Namun, entah mengapa Antoine masih bisa menanyakan hal-hal bodoh yang cukup mengganggu.

“Kamu benar-benar mau berangkat, Yoann? Kamu sudah siap sakit hati?” Tanya Antoine sambil tersenyum penuh kejahilan. Sebenarnya aku tidak peduli dengan pertanyaannya. Apa salahnya datang di pernikahan seorang mantan kekasih? It is seriously fine!

Kereta selanjutnya sudah terlihat dari kejauhan, kami menghela napas panjang tanda kami sangat lega. Antoine kembali menanyakan pertanyaan bodoh sebelum kami memasuki kereta. “Kamu tidak berniat balas dendam kan atas bagaimana dia menyakitimu?”

Aku sudah lelah dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh itu, segera aku buka kotak hadiah yang aku bawa. “Baguskan? Kalau aku dendam aku  tak akan memberikan hadiah ini. “ kataku sambil tersenyum sumringah.

“Oh bagus, tapi kenapa Babi?” Tanya Antoine polos.
“Dia suka Buaya.” Jawabku.
“Maksudku kenapa kepala buaya? Apa maksudmu?”

Aku hanya bisa tersenyum sinis, ”Aku hanya ingin menunjukkan padanya, siapakah jati diri calon suaminya itu.  Lihat aku sudah mengukir nama suaminya di Kepala ini. Semoga lekas sampai, sebelum kepala ini busuk.”

BY Cyc

Rabu, 15 Januari 2014

WE ESA's Fair 2014 is coming..!!!! come join us to write an essay !!!