Sore ini langit begitu mendung, mungkin
langit paham suasana hatiku. Kupandangi terus mereka yang menangis di sana. Apa
yang sedang mereka tangisi di sana, aku tidak mau tahu.
“Oh, mulai gerimis.” Kata Horace pelan
mengagetkan lamunanku. Dengan lambaian pelan dia mengajakku meninggalkan tempat
itu. Aku masih diam, mematung, kakiku seperti berakar ke dalam tanah. Horace berusaha
menggapai ku.
“Ayolah, sudah mulai hujan. Kau akan basah kuyup jika tetap disini.” Kata Horace pelan. Dia mengatakan hal yang sama berulang-ulang. “Ini bukan salahmu, Deanne. Dia akan merindukanmu.”
Oh, jadi sedari tadi dia berbicara pada Deanne, kekasihku. Gadis cantik itu mulai beranjak pergi, sambil menangis. Horace memeluknya dengan tangannya yang kekar. Oh, setidaknya Deanne aman bersama sahabat sejatiku itu.
Jaga dia Horace, jangan sampai tanganmu yang kekar melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan padaku. Setidaknya peluk dia, jangan patahkan lehernya.
Aku akan sangat merindukannya. By the way, mengapa namaku tertulis di batu aneh ini? Oh aku tahu, setidaknya mereka ingat tanggal lahirku. Haha…
“Ayolah, sudah mulai hujan. Kau akan basah kuyup jika tetap disini.” Kata Horace pelan. Dia mengatakan hal yang sama berulang-ulang. “Ini bukan salahmu, Deanne. Dia akan merindukanmu.”
Oh, jadi sedari tadi dia berbicara pada Deanne, kekasihku. Gadis cantik itu mulai beranjak pergi, sambil menangis. Horace memeluknya dengan tangannya yang kekar. Oh, setidaknya Deanne aman bersama sahabat sejatiku itu.
Jaga dia Horace, jangan sampai tanganmu yang kekar melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan padaku. Setidaknya peluk dia, jangan patahkan lehernya.
Aku akan sangat merindukannya. By the way, mengapa namaku tertulis di batu aneh ini? Oh aku tahu, setidaknya mereka ingat tanggal lahirku. Haha…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar