Kapan kami akan berangkat ke London?
Pertanyaan itu selalu membayang di benak ku. Mungkin kami harus menunggu lebih lama lagi, tapi paman berjanji akan mengirim tiketnya Desember ini.
Pertanyaan itu selalu membayang di benak ku. Mungkin kami harus menunggu lebih lama lagi, tapi paman berjanji akan mengirim tiketnya Desember ini.
"Merie, kau mendapat hadiah terindah dari pamanmu, tiketnya datang!" Teriak ibu dari lantai bawah.
Aku hanya bisa diam, mendengar apa yang baru saja dikatakan ibu. Tenggorokanku tercekat. Nafasku berat. Mataku masih tak bisa berpaling dari layar monitorku.
"Ayolah Merie, Pamanmu datang sendiri mengantarkannya, temui dia di bawah." Ibu masih membujukku.
Aku makin ragu, pusing. Aku mulai kehabisan napas. Ibu melihat aku yang pucat pasi lalu ikut memandangi layar monitor.
Seketika Ibu pingsan. BRUUUK !!
...... maaf Merie, paman James meninggal beberapa
hari yang lalu, dia tak bisa mengirim tiketmu. Tiket yang dia bawa juga hilang
dibawa pembunuhnya....
Bunyi Email yang aku baca. OH ... Tidak!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar