Kalimat judul dari tulisan ini mungkin akhir-akhir
ini sedang terngiang-ngiang di benak sahabat-sahabat sekalian. Terutama mereka
yang gagal SNMPTN UTul (Ujian Tulis). Ya seperti saya ini salah satunya. Hahaaa…
Masih ada jalan guys. Ada swadana, ada UMB, dll. Terserah apa istilahnya. Oiya bagi
yang ssudah diterima lewat jalur Undangan dan UTul, selamat ya.. kuliah yang
bener lho..!!! (kecewa tampang sok bahagia mode activated).
Buat yang sudah keterima di UMB,
Swadana, Mandiri atau apalah itu. Kalian juga harus membuktikan bahwa
kualifikasi kalian tidak kalah dengan mereka yang sudah keterima duluan. Ingat,
nanti saat kuliah sudah tidak ada bedanya kalian dengan para UTul-ers dan Undangan-ers. Ayo, tekuni kuliahmu, aktif berorganisasi dan jadi
mahasiswa yang hebat !!! (menyemangati diri sendiri mode activated). Bedanya
mungkin cuma bagian awal semester.. hehe.. biaya so pasti.. (lesu deh..) tapi
tenang, jadilah mahasiswa yang layak mendapat beasiswa. OPTIMIS dan BERJUANG, pal !!
Lalu bagaimana dengan yang akhirnya
“terpaksa” tidak masuk PTNegeri? mungkin karena kurang beruntung atau salah
strategi atau malah “menyepelekan” ? itulah yang akan kita bahas, guys.
Ada 3 pilihan yang bisa ditempuh. Pertama, kuliah di
PT swasta. Kedua, “Libur” satu tahun dan ikut UTul 10% jatah kita itu tahun
depan. Ketiga, ,..Ijab Qabul. Hehe.. pilihan ke 3 paling logis lho ternyata…
Mari kita bahas satu per satu 3
pilihan diatas.
1.
Kuliah di PTSwasta atau Kursus.
Kuliah
di PT Swasta memang membutuhkan pertimbangan ekstra. Salah satunya dari faktor
biaya. Ya, karena swasta, sistem kuliah kita jadi seperti swadana. Banyak biaya
yang harus dibayarkan.
Tapi
toh sekarang banyak PTS yang biayanya malah lebih murah dari PTN jalur UTul.
Dengan kualifikasi yang tidak kalah mentereng dan bagus. Alasan kasihan orang
tua ? kalau beliau sudah sanggup membiayai, tugas kita tinggal kuliah yang
fokus. That’s it. Okelah masalah
biaya tak menjadi soal. Masalah besar yang justru dihadapi para calon Maru
(Mahasiswa Baru) adalah : GENGSI !!!
Mereka
merasa gengsi bila bertemu Guru, teman, atau tetangga dengan status Mahasiswa
Swasta melekat pada diri mereka. Tapi what
the **** dengan status itu ? mereka yang “Malu” adalah Maru bermuka tipis
yang lebih mementingkan harga diri daripada masa depan. Kenapa harus malu ?
swasta jaman sekarang sudah sangat bergengsi. Kita ambil contoh Universitas
Muhammadiyah. Dimanapun tempatnya, PTS ini masuk dalam kategori PTS berkualitas
lho, pal…
Bagaimana
dengan UNIVET Bantara Sukoharjo, Univ. Setia Budi, Univ. Widya Dharma, Univ.
Slamet Riyadi, dan lain-lain selain Muhammadiyah..?
Guys and ladies, saatnya kita membuka mata.
Univ. – Univ. diatas memiliki kualifikasi yang bagus pula guys. Lulusan hasil pendidikan mereka juga tidak kalah kelas
dibanding lulusan Univ. Negeri. Kamu bisa lihat lulusan Univ. swasta yang
justru lebih cepat bekerja dan mapan dibandingkan
lulusan Negeri. Lagipula, guys..
Bagus tidaknya kita nanti saat sudah menjadi lulusan tergantung individu kita
sendiri.
So,
tidak ada alasan lagi untuk gengsi dan minder karena kita kuliah di swasta.
Justru ketika kita kuliah di swasta, tanamkan dalam hati kalian bahwa kalian
akan berusaha keras dan berjuang agar tidak kalah atau bahkan bisa melampaui
mereka yang kuliah di negeri.
Tapi,
namanya juga otak bebal. Mereka yang merasa gengsi tetap saja cari-cari alasan.
Bagaimana dengan tenaga pengajarnya ? jangan-jangan system pendidikannya
berantakan ? bagaimana fasilitasnya ? dan berjuta-juta pertanyaan konyol untuk
menutup gengsi.
Jawabannya
… PTS-PTS tersebut sudah mendapat uji kelayakan oleh pemerintah. Logikanya guys, kalau mereka tidak berkualifikasi
baik, mereka tidak akan diijinkan beroperasi bukan ?
Nah
, Bagi kalian yang memutuskan kuliah di swasta, salut..!!!! kalian pasti sudah
punya pertimbangan yang matang. Salah satu alasan kalian (mungkin) adalah,
jangan sampai mereka berhenti sementara. Itu keputusan yang brilian guys and ladies.. Saya acungi 2 jempol untuk anda !!!
Kalau
untuk kursus keahlian, hampir sama penjelasannya dengan hal diatas. Sekali
lagi, ingat bahwa :
“Kompetensi lulusan
dan kecakapan kita saat siap bekerja bukan tergantung pada instansi pendidikan
kita saja. Faktor utama yang paling berpengaruh adalah : Individu kita itu
sendiri ! ”
2.
LIBUR
1 Tahun
Ini adalah pilihan selanjutnya
yang bisa dipilih, pal. Yap .. libur
1 tahun atau menunggu kesempatan dan peluang masuk PTN lagi tahun depan. Ya
pilihan ini tidak ada salahnya juga, karena kenyataannya banyak kakak kelas
kita yang melakukannya dan akhirnya .. BERHASIL… !!! berhasil horee.. (D*ra
mode activated) tapi jangan lupa, banyak juga yang gagal. Eemmm…
Tapi apakah pilihan itu tepat
untuk tahun ini, ada beberapa pendapat. Pertama, mereka yang mengatakan : YA,
SANGAT TEPAT. Dengan dasar, tahun depan generasi kita dapat kuota 10% kursi
masuk PTN. Ingat, !!! hanya generasi kita.. mungkin sekitar 10.000 kursi… wah..
fantastis !!!
Tapi, tunggu dulu. Mereka yang
mengatakan : TIDAK, KURANG TEPAT. Asumsi mereka berdasarkan fakta, bahwa tahun
depan SNMPTN UTul itu DIHILANGKAN, guys !!! so, mereka yang mengincar kursi “Dibiayai
Pemerintah” lewat UTul ini perlu berpikir ulang. Mengapa ? karena pemerintah
belum menentukan lewat mana kuota 10% kita tahun depan. Jadi, 10% kuota yang
diberikan pada lulusan tahun ini belum tentu lewat UTul dan berakhir dengan
biaya kuliah ala UTul juga. Bisa saja lewat Mandiri atau UMB. Tentu dengan
biaya kuliah swadana. Lalu, makin tahun biaya kuliah bisa makin tinggi,
akhirnya, sama saja kan swadana/ swasta sekarang atau tahun depan ?
Lagipula guys, perlu kita ingat sekali lagi, banyak juga kakak kelas kita
yang gagal setelah “Libur” setahun. So , pikirkan lagi guys.
3.
Menikah alias Ijab Qabul
Pilihan
ketiga. Hehe.. agak lucu memang, tapi ini fakta dan benar-benar terjadi serta
layak diperbincangkan !! (S*let mode activated)
Pada
pilihan ketiga ini memang lebih pantas bila Ladies
yang memilihnya. Alasannya ya, biasanya (ilmu titen e wong jawa) mereka bisa menggantungkan hidup pada
pasangan (kalau ssudah punya calon sih..) yang sudah mapan.
Tapi
bukan berarti saya menyarankan lho..
Lebih
baik, Ladies jaman sekarang bekerja,
agar bisa memenuhi kebutuhan dan nafkah keluarga. Bukannya nafkah dari suami
tidak disyukuri. Tapi bayangkan seandainya (Naudzubillah..!!) suami kamu
“Pergi”. Entah kecanthol gadis lain
atau wafat. Disaat itulah wanita yang mandiri bisa lebih tenang berfikir dan
melanjutkan hidupnya. (Salut pada mama saya.. Love you mom..!!)
Eemmm…
buat para pria, ya mendingan jangan yah..
Bayangin
aja, kalian mau kasih makan apaan anak istri kalian nanti..? tapi terserahlah.
Itu kan hak asasi. Hehehe…
So,
silahkan menentukan pilihan masing-masing. Tulisan yang saya tulis ini bukan
bertujuan untuk men-judge individu
atau kelompok tertentu. Tulisan ini semata-mata pandangan awam dari sisi
subyektivitas saya yang tertuliskan dalam rangkaian huruf-huruf. Jadi silahkan
menilai sendiri apa yang benar sesuai idealisme anda masing-masing, pal. So, jika pendapat dan pandangan
saya tidak seseuai dengan anda, mohon dimaafkan.
Sekian
ulasan subyektif saya, mohon maaf bila banyak kesalahan dalam tulisan diatas.
Oiya..
jangan lupa mampir di blog saya, www.mnconqueror.blogspot.com untuk mengritisi tulisan-tulisan
saya yang lain. Thank’s a lot, Pal..!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar