"Kenapa kau pergi, Yoann ? itu tadi sangat romantis dan indah." Iru memulai pembicaraan.
Yoann masih terlihat datar dan tak menanggapi.
"Aku tidak mengerti, mengapa kau terlihat tidak suka pada mereka." kata Iru merujuk pada Dean dan Dini.
"Aku ikut senang mereka akhirnya memutuskan berkomitmen." lanjut Iru.
Yoann nampak mulai tertarik dengan kalimat-kalimat "pancingan" Iru. Sesaat kemudian Iru mulai menyadari bahwa Yoann mulai menanggapi perkataannya.
"Aku tidak membenci mereka, bahkan aku tidak peduli." sahut Yoann.
CLAAANKKK...!!!!
Pipa besi yang berbentuk huruf T di atap gedung itu berbunyi nyaring, seekor gagak hinggap di atasnya. Diikuti suara berisik khas burung menakutkan itu.
Langit mulai menampakkan guratan-guratan keemasan yang berkilau. Matahari terlihat makin malas untuk tetap menggantung di langit.
"Aku hanya benci pada apa yang mereka perjuangkan mati-matian." Kata Yoann melanjutkan.
"Maksudmu..??" Iru makin penasaran dengan jawaban Yoann.
Yoann berdiri dan meletakkan buku hitam yang dibawanya sejak tadi.
"Mereka, para pejuang cinta yang bodoh itu, akan rela terjun ke jurang terdalam dan hancur sia-sia. Mati. Tanpa hasil apapun."
"Mereka akan sekarat bersama pelukan orang yang mereka perjuangkan, tanpa hasil nyata."
"Keringat, pikiran, semangat, segalanya.. mereka berikan dan hasilnya hanya, SIA-SIA !!"
Iruzuki paham maksud Yoann, lalu sejenak berfikir.
"Jadi Yoann, maksudmu cinta itu bodoh karena tak menghasilkan apa-apa?" tanya Iru.
"Perjuangan yang tidak dihargailah yang bodoh." sahut Yoann.
"Perjuangan yang berakhir sia-sia , tak dianggap, dan diakhiri hanya dengan kata MAAF atau bahkan tuduhan konspirasi yang tak beralasan. Itulah yang sangat bodoh."
"Itu pengalaman pribadimu, benar itu Yoann..?" tanya Iru menebak.
Yoann tercengang, dia tidak menyangka dengan kemampuan analisa Iru yang hebat, dia mampu mengetahui apa yang dipikirkan Yoann.
"Bukan Yoann,.. bukan kebodohan,.. bukan pula hasil yang menggambarkan keindahan cinta." Kata Iru dengan senyuman.
Yoann melihat Iru dengan raut muka tak percaya apa yang baru saja dia dengar.
Burung gagak yang sejak tadi bertengger di pipa T itu beranjak terbang menjauh. Dan mulai gelap.
Iruzuki melanjutkan.
"Lalu..?" sahut Yoann.
"Seni dan keindahan Cinta ...." lanjut Iru menjelaskan.
"Tak ada yang kekal di dunia yang aneh ini, semua mudah hilang dengan misterius. Tuhan mempertemukan dua insan dalam cinta, otomatis tuhan pula yang akan memisahkannya. Itu konsekuensinya."
"Aku paham, lalu bagaiman dengan tentang seni dan keindahan cinta itu.?" tanya Yoann penasaran.
"Kau harus mengerti , SENI DAN KEINDAHAN CINTA TIDAK TERLETAK PADA APA YANG AKAN KAU DAPAT SETELAH KAU MEMPERJUANGKANNYA, TAPI TERLETAK PADA KUATNYA TEKAD DAN USAHAMU SAAT BERJUANG !!!! "
"Jadi, aku terlalu naif soal hasil ?" tanya Yoann lagi.
"Bukan, pikirkan BETAPA KUATNYA PERJUANGAN DAN TEKADMU, LUPAKAN MASALAH HASIL, DARI SANALAH TERPANCAR BETAPA BESAR NILAI CINTAMU. SETELAH ITU BILA KAU IKHLAS MELAKUKANNYA MAKA KAULAH YANG TERBAIK"
"Hanya tentang cinta sajakah prinsip itu bisa digunakan ?" tanya Yoann.
Iru berdiri dari posisi duduknya dan berjalan beberapa langkah ke depan sambil memandang matahari tenggelam.
"Tentu saja tidak, secara umum prinsip ini berlaku ketika kau melakukan semua hal."
Yoann tersenyum. Dia seperti mulai paham tentang hal yang selama ini dia cari. Tapi rasa penasaran yang begitu besar masih menggelayuti pikiran cerdasnya.
Dia lalu mengambil buku hitamnya dan menyiapkan pena kesayangannya.
"Mungkin selama ini aku terlalu kolot untuk menyadari kesalahanku tentang semua ini." kata Yoann sambil membuka buku hitamnya.
"Tidak kawan, kita hanya belum memahaminya lebih dalam." kata Iru sambil tersenyum.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar