Senin, 10 Desember 2012

The Great Alcoros Wall






Rolando merasakan banyak hal ganjil yang terus menimpa mereka.Walaupun bisa dibilang “hanya” sebuah masalah kecil yang tidak terlalu penting. Namun, otak kritis Rolando tidak bisa menyembunyikan kegalauannya.

Mulai dari gerbang raksasa Alcoros – Sebuah tembok super besar dan kokoh yang dibangun oleh pemerintah pusat - yang berhasil ditembus dengan mudah oleh pasukan Mugol.

Pemerintah Sector.
Atau lebih banyak orang menyebutnya Sector saja.
Atau pemerintah super kotor dan korup.  

Ya, seperti itulah kata-kata yang terlintas di benak masyarakat bila mendengar kata itu.

          “Apa yang sedang terjadi disini?” ujar Rolando dalam hati.

          “Jika memang barisan depan Morivar tidak bisa menembus Gerbang Alcoros, tidak mungkin pasukan kawasan mugol yang harus melalui jalur yang sama bisa dengan mudah menembusnya.”

          Rolando kesulitan untuk mencerna apa yang terjadi disekelilingnya. Beberapa tanda dan petunjuk mencurigakan tentang pergerakan terlarang untuk menentang pemerintah pusat sudah mulai tercium.

          Tunggu sebentar,

Seorang remaja yang menginjak usia 19 tahun. Seorang yang tampak Ordionary,  namun memiliki kemampuan-kemampuan untuk mencengangkan dunia. Dia terlalu tampil sederhana dan membaur dengan yang lain. Dengan postur  yang tidak setinggi rekan-rekannya yang lain, dia selalu nampak kecil dibandingkan mereka. Ada Gesture spesial dari Rolando yang menarik perhatian orang lain. Itu adalah  raut wajahnya yang selalu tenang ketika menghadapi semua masalah.

          Kali ini Rolando terus menatap gerbang pembatas yang ada didepannya. Sebelum --------------------------------------------------------
          Menyadari rekannya terus memandang gerbang “petaka” itu. Yama, seorang gadis yang juga rekan Rolando dalam ekspedisi bernama  “Penyelamatan Korban Perang “ itu, mendekati Rolando.

          “Jika yang kau pikirkan sekarang adalah bagaimana pasukan mugol yang bisa menyerang kelompok kita, aku tidak apa yang harus kukatakan untuk membantumu.” kata Yama.

          “Semua masalah ini terlalu membingungkan. Aku jadi pusing.” Lanjut Yama sambil tersenyum kecil.

          Rolando maju dua-tiga langkah, lalu membungkuk dan mengeruk tanah pasir yang ada dibawahnya.

          “Mungkinkan bangsa mugol bisa berubah menjadi pasir? “Tanya Rolando. Yama tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Rolando.

“Mereka berubah menjadi  seperti pasir-pasir ini, lalu terbang melewati gerbang ini?”kata Rolando mencoba menjelaskan

Rolando seakan mengerti bahwa Yama kurang memahami pertanyaannya.

“Mengapa kau berpikiran seperti itu?”

Angin bertiup dan menggerakkan

------------------
          “Apa maksudmu, Rolando?” Tanya Yama.

          “Darah mengalir dari jantung, membawa oksigen yang berasal dari respirasi kita. Lalu menuju semua bagian tubuh kita termasuk otak dan hati ini.” ujar Rolando sambil menunjuk ulu hatinya.

          “Jika ideologi bangsa biadab seperti mugol masuk ke otak dan hati, maka akan sulit bagi kita mendapatkan kejujuran dari hati, dan juga lisan, yang  dikendalikan oleh otak.”

          “Apa lagi yang sulit dikendalikan oleh manusia kecuali nafsu dan kekejaman, serta rasa ingin unggul dari orang lain?”

          Yama hanya bisa terdiam, Rolando menaburkan pasir yang ada digenggaman tanganya itu perlahan. Dan melanjutkan ucapannya.

          “Para birokrat diatas kita terlalu busuk untuk memikirkan masyarakatnya.  Mereka seperti udang galah yang memakai jas dan dasi panjang berkilau. Yang menaiki kereta yang rodanya berupa penderitan rakyat, suaranya terdengar seperti tangisan rakyat jelata, dan bahan bakar nya adalah keringat rakyat yang diperas dengan naiknya semua harga dan biaya hidup!”kata Rolando.

          Selama mengucapkan semua kalimatnya itu, raut muka Rolando yang santai namun dengan tatapan tajam tak berubah. Angin seakan menggaruk tubuh Yama, dingin dan penuh bau menyengat.

          Semua anggota ekspedisi yang berjumlah Sembilan (9) orang itu diam menatap Rolando. Namun, kalimat Rolando kali ini terasa berbeda dengan bisaanya,cenderung berbobot dan bernilai filsafat tinggi.

          Seorang anggota berwajah tampan, dari perawakannya dia adalah tipe lelaki pilihan banyak wanita, maju mendekati Rolando untuk memegang pundak Rolando.
          Pria tampan yang lebih tinggi dari Rolando itu bernama Coda.

          “Rolando, apa yang harus kami lakukan dengan semua ini?” Tanya Coda.

          Rolando hanya menoleh kearah Coda dan kembali menatap Gerbang Alcoros.

          “Sembilan orang ini yang akan mengungkap kebobrokan sistem.”

          Dengan nada berapi-api, Coda mengepalkan tangannya dan mengangkatnya.

          “Tim Sembilan. Kyu team. Jika kalian ingin berjuang hingga tak ada lagi kesengsaraan didunia ini. Kita lewati Gerbang Alcoros.”

          Sejak saat itu tim Sembilan atau disebut Kyu team menjadi kelompok yang pergerakannya membuat pemerintah korup kebingungan. Hingga nama mereka sering disebut dengan Alcoros Organization……

          Rolando terbangun dari tidurnya,  ahh,.

Ternyata itu semua hanyalah bunga tidur. Pantas saja ceritanya berbelit-belit.
          Rolando membuka jendela kamarnya dan menatap sinar matahari. Anehnya, dia melihat di kejauhan ada sebuah bayangan.

Itu seperti…

Sebuah gerbang raksasa ! seperti dalam mimpinnya.

          “Rolando, bangun nak, kau bilang hari ini kelasmu akan mengadakan trip ke gerbang itu.”

Tiba-tiba Rolando dikejutkan oleh suara ibunya di luar kamar.  Mungkin Mrs. Swee, Ibu Rolando, mengira putra kesayangannya masih tidur.

          “Apaaa,..!!!” Rolando sangat terkejut.

Eemm,… mimpinya menjadi kenyataan. Atau selama ini kehidupan normal Rolando yang hanyalah mimpi. Tak ada yang bisa memastikan kecuali jika dia menjalaninya.                    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar