Rolando merasakan banyak hal ganjil yang
terus menimpa mereka.Walaupun bisa dibilang “hanya” sebuah masalah kecil yang tidak
terlalu penting. Namun, otak kritis Rolando tidak bisa menyembunyikan kegalauannya.
Mulai dari gerbang raksasa Alcoros –
Sebuah tembok super besar dan kokoh yang dibangun oleh pemerintah pusat - yang
berhasil ditembus dengan mudah oleh pasukan Mugol.
Pemerintah Sector.
Atau lebih banyak orang menyebutnya
Sector saja.
Atau pemerintah super kotor dan korup.
Ya, seperti itulah kata-kata yang
terlintas di benak masyarakat bila mendengar kata itu.
“Apa yang sedang terjadi disini?” ujar
Rolando dalam hati.
“Jika memang barisan depan Morivar tidak
bisa menembus Gerbang Alcoros, tidak mungkin pasukan kawasan mugol yang harus melalui
jalur yang sama bisa dengan mudah menembusnya.”
Rolando kesulitan untuk mencerna apa
yang terjadi disekelilingnya. Beberapa tanda dan petunjuk mencurigakan tentang
pergerakan terlarang untuk menentang pemerintah pusat sudah mulai tercium.
Tunggu sebentar,
Seorang remaja yang menginjak usia 19
tahun. Seorang yang tampak Ordionary, namun memiliki kemampuan-kemampuan untuk mencengangkan
dunia. Dia terlalu tampil sederhana dan membaur dengan yang lain. Dengan postur
yang tidak setinggi rekan-rekannya yang
lain, dia selalu nampak kecil dibandingkan mereka. Ada Gesture spesial dari Rolando yang menarik perhatian orang lain. Itu
adalah raut wajahnya yang selalu tenang
ketika menghadapi semua masalah.
Kali ini Rolando terus menatap gerbang
pembatas yang ada didepannya. Sebelum
--------------------------------------------------------
Menyadari rekannya terus memandang
gerbang “petaka” itu. Yama, seorang gadis yang juga rekan Rolando dalam
ekspedisi bernama “Penyelamatan Korban Perang
“ itu, mendekati Rolando.
“Jika yang kau pikirkan sekarang
adalah bagaimana pasukan mugol yang bisa menyerang kelompok kita, aku tidak apa
yang harus kukatakan untuk membantumu.” kata Yama.
“Semua masalah ini terlalu
membingungkan. Aku jadi pusing.” Lanjut Yama sambil tersenyum kecil.
Rolando maju dua-tiga langkah, lalu
membungkuk dan mengeruk tanah pasir yang ada dibawahnya.
“Mungkinkan bangsa mugol bisa berubah
menjadi pasir? “Tanya Rolando. Yama tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Rolando.
“Mereka berubah menjadi seperti pasir-pasir ini, lalu terbang
melewati gerbang ini?”kata Rolando mencoba menjelaskan
Rolando seakan mengerti bahwa Yama
kurang memahami pertanyaannya.
“Mengapa kau berpikiran seperti itu?”
Angin bertiup dan menggerakkan
------------------
“Apa maksudmu, Rolando?” Tanya Yama.
“Darah mengalir dari jantung, membawa
oksigen yang berasal dari respirasi kita. Lalu menuju semua bagian tubuh kita
termasuk otak dan hati ini.” ujar Rolando sambil menunjuk ulu hatinya.
“Jika ideologi bangsa biadab seperti
mugol masuk ke otak dan hati, maka akan sulit bagi kita mendapatkan kejujuran
dari hati, dan juga lisan, yang dikendalikan oleh otak.”
“Apa lagi yang sulit dikendalikan oleh
manusia kecuali nafsu dan kekejaman, serta rasa ingin unggul dari orang lain?”
Yama hanya bisa terdiam, Rolando
menaburkan pasir yang ada digenggaman tanganya itu perlahan. Dan melanjutkan
ucapannya.
“Para birokrat diatas kita terlalu
busuk untuk memikirkan masyarakatnya. Mereka
seperti udang galah yang memakai jas dan dasi panjang berkilau. Yang menaiki
kereta yang rodanya berupa penderitan rakyat, suaranya terdengar seperti
tangisan rakyat jelata, dan bahan bakar nya adalah keringat rakyat yang diperas
dengan naiknya semua harga dan biaya hidup!”kata Rolando.
Selama mengucapkan semua kalimatnya
itu, raut muka Rolando yang santai namun dengan tatapan tajam tak berubah. Angin
seakan menggaruk tubuh Yama, dingin dan penuh bau menyengat.
Semua anggota ekspedisi yang berjumlah
Sembilan (9) orang itu diam menatap Rolando. Namun, kalimat Rolando kali ini terasa
berbeda dengan bisaanya,cenderung berbobot dan bernilai filsafat tinggi.
Seorang anggota berwajah tampan, dari
perawakannya dia adalah tipe lelaki pilihan banyak wanita, maju mendekati Rolando
untuk memegang pundak Rolando.
Pria tampan yang lebih tinggi dari Rolando
itu bernama Coda.
“Rolando, apa yang harus kami lakukan
dengan semua ini?” Tanya Coda.
Rolando hanya menoleh kearah Coda dan
kembali menatap Gerbang Alcoros.
“Sembilan orang ini yang akan
mengungkap kebobrokan sistem.”
Dengan nada berapi-api, Coda
mengepalkan tangannya dan mengangkatnya.
“Tim Sembilan. Kyu team. Jika kalian
ingin berjuang hingga tak ada lagi kesengsaraan didunia ini. Kita lewati
Gerbang Alcoros.”
Sejak saat itu tim Sembilan atau
disebut Kyu team menjadi kelompok yang pergerakannya membuat pemerintah korup kebingungan.
Hingga nama mereka sering disebut dengan Alcoros Organization……
Rolando terbangun dari tidurnya, ahh,.
Ternyata itu semua hanyalah bunga tidur.
Pantas saja ceritanya berbelit-belit.
Rolando membuka jendela kamarnya dan
menatap sinar matahari. Anehnya, dia melihat di kejauhan ada sebuah bayangan.
Itu seperti…
Sebuah gerbang raksasa ! seperti dalam
mimpinnya.
“Rolando, bangun nak, kau bilang hari
ini kelasmu akan mengadakan trip ke
gerbang itu.”
Tiba-tiba Rolando dikejutkan oleh suara
ibunya di luar kamar. Mungkin Mrs. Swee,
Ibu Rolando, mengira putra kesayangannya masih tidur.
“Apaaa,..!!!” Rolando sangat terkejut.
Eemm,… mimpinya menjadi kenyataan. Atau
selama ini kehidupan normal Rolando yang hanyalah mimpi. Tak ada yang bisa
memastikan kecuali jika dia menjalaninya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar